Sabtu, 06 Desember 2014

Gegerbentang: life is a journey

menjadi bagian dari siswa DIKLATSAR XXXIV KMPA Eka Citra UNJ adalah sebuah pilihan. untuk mengikuti serangkaian program yang ada juga butuh pengorbanan. menjalani latihan fisik dengan intensitas yang semakin tinggi tiap harinya, materi dan simulasi yang bertambah tiap minggunya, serta try out dimedan latihan tiap bulannya. waktu, tenaga, pikiran dan uang adalah pengorbanannya. padahal, untuk menjadi anggota KMPA Eka Citra sendiri prosesnya sangat panjang. mulai dari menjadi siswa untuk menjalani pendidikan dasar (Oktober -  Februari) lalu mengikuti seleksi untuk aplikasi akhir agar bisa menjadi anggota muda dan menjalani pendidikan lanjutan sampai akhirnya menjadi anggota penuh. lalu, mengapa?

"No handouts. If you want it, work for it. If you need it, get it. If you crave it, fill your desire." 

awal-awal mengikuti latihan fisik, jogging 5 putaran mengelilingi kampus UNJ rasanya sangat melelahkan. pernah, saya selingi dengan berjalan hingga ditegur oleh beberapa instruktur. sampai pada suatu kesempatan, kak Rahman memberikan motivasi kepada kami siswa 34, "If the mind lead, the body will follow." sebuah kalimat yang bisa diartikan oleh semua orang, tetapi hanya bisa diimplementasikan ke dalam diri sendiri. kalimat sederhana dengan sejuta makna. tentang kemauan, tentang pengendalian diri, tentang pikiran yang positif. ketika kita berpikir kita bisa, maka kita bisa…  

"Jika kalian tidak mau merasakan sulitnya belajar dan lelahnya latihan, maka bersiaplah untuk merasakan pedih dan sakitnya sebuah kegagalan."

menjelang Try Out I Hutan Gunung, kami para siswa sibuk mencari peralatan yang sedemikian banyaknya wajib untuk dibawa. saya sangat bersyukur mempunyai Ibu dan Kakak yang secara finansial bersedia membantu melengkapi keperluan untuk kegiatan ini. tanpa disadari, komitmen terhadap diri sendiri mulai terbangun. saya tidak hanya akan bermain, tetapi saya juga akan belajar bersama KMPA Eka Citra. dengan bermodalkan rasa ikhlas, sayapun menikmati segala proses yang sedang berjalan dan berharap semua kebaikan orang-orang yang telah membantu menyiapkan segala sesuatunya dibalas oleh Allah SWT, aamiin.


7 November 2014

menjelang maghrib, masih ada siswa 34 yang belum menyelesaikan packing peralatan. bahkan, saudara Acid dan Anip terpaksa tidak bisa ikut ke medan latihan dikarenakan peralatan yang belum lengkap. hal ini tentu menjadi pelajaran bagi kami siswa 34 untuk lebih melancarkan komunikasi dan saling mengingatkan antarsaudara. akhirnya, hanya 22 orang siswa yang bisa berangkat dengan saya sebagai siswa nomor 10 (diurut berdasarkan tinggi badan). sebelum perjalanan dimulai, kak Rudy memberikan sedikit wejangan untuk bekal di Gegerbentang nanti. beliau berpesan untuk kami siswa 34 agar dapat menjaga kebersamaan dan senantiasa berpikir positif.

"TABAH SAMPAI AKHIR."

21.00 - 05.00
dalam perjanan menuju Gegerbentang, tronton yang kami tumpangi mogok ditengah jalan hingga mengharuskan kami untuk beralih ke bus yang ada disekitar TKP. setelah kurang lebih 4 jam perjalanan, akhirnya kami sampai dititik awal pendakian. dimulai dari sebuah terminal lalu melewati perumahan warga dan perkebunan teh. setelah kurang lebih 3 jam berjalan menanjak dengan istirahat hanya 3x10 menit, akhirnya kami sampai di camp Lawang Angin. inilah untuk pertama kalinya saya berjalan menanjak membawa carrier muatan 80l dengan 5l air sebagai beban utamanya.

"Rintangan apapun akan bisa kamu lewati jika kamu memiliki keyakinan. Kamu kuat karena kamu yakin. Kamu lemah karena kamu ragu."

05.00 - 07.00
ternyata, waktu istirahat yang minim membuat kualitas tidur semakin baik. saya dan saudara yang lain merasakan hal yang sama, tidur kami terasa sangat nyenyak. sebelumnya, kami diinstruksikan untuk membuat bivak individu yang beralaskan matras. sialnya, saya bersama saudara Aliyyaa, Ulfi dan Ivana mendapat tempat camp paling atas sehingga saat ada komando dari para instruktur untuk turun maka untuk kembali ke tempat camp, kami lah yang memakan waktu paling lama. bagaimana tidak, ketika saudara kami yang lain sudah membereskan dan packing alat kembali, kami masih harus berjalan menanjak menuju tempat camp. tetapi hal ini sama sekali tidak mematahkan semangat saya, justru menjadi motivasi tersendiri agar bisa lebih cepat dalam membereskan dan packing alat.

8 November 2014

sebelum memulai aktivitas kembali, kami berolahraga pagi bersama kak Sambadha dilanjutkan masak dan sarapan diatas kebun teh dengan kak Anis. setelah selesai makan, 22 siswa dibagi menjadi 4 kelompok. saya bersama saudara Baya, Aliyyaa, Ajie dan Basril tergabung dalam kelompok 3 dan langsung diinstruksikan untuk simulasi navigasi darat. setelah itu, para siswa beserta para instruktur apel pembukaan Try Out I Hutan Gunung.

 

12.00 - 15.00
perjalanan menuju Puncak Gegerbentang dapat kami tempuh hanya dengan waktu kurang lebih 3 jam berkat komando dari para instruktur yang selalu mengingatkan kami untuk bergerak cepat. lambat sedikit saja, bisa ketinggalan jauh. pluit komando tanda berhitung kerap muncul dikala lelah menghantam tubuh ini. mungkin ini adalah salah satu cara instruktur menjaga kami para siswa agar tetap fokus, pikirku.

walaupun hujan yang deras menemani perjalanan kami,
pacet yang ganas menempel disekujur tubuh kami,
beban yang berat bermanja pada pundak kami,
hal itu sama sekali tidak mematahkan semangat kami.
karena kami tidak berjuang sendirian,
kami berjalan bersama saudara seperjuangan.

 "Kamu tahu hal apa yang romantis dari hujan? Ia selalu mau datang kembali meski terjatuh berkali-kali."

sebuah perjalanan yang dihiasi semangat dan aksi nyata untuk saling menjaga keutuhan keluarga adalah anugerah indah dari Tuhan untuk siswa 34 kala itu.

"If you want to go fast, go alone. If you want to go far, go together." 


15.00 - 19.00
sesampainya dimedan latihan, kami diinstruksikan untuk masak dan makan lalu menyerahkan seluruh logistik yang ada kepada kak Ali. ternyata, kami akan mengaplikasikan materi SURVIVAL. dengan hanya berbekal golok, saya dan anggota kelompok lainnya mencari bahan makanan dan berhasil mendapatkan Begonia, Pisang Batu, dan Daun Pakis. apa yang kita dapatkan hari ini adalah bahan makanan untuk makan malam dan sarapan esok hari. ketika waktunya masak dan makan malam, instruktur memberikan Kentang dan Labusiam kepada kami para siswa. mungkin karena prihatin dengan hasil yang kami dapatkan, hahaha.

19.00 - 00.00
setelah makan, kami yang diinstruksikan untuk membuat bivak semi alam langsung membagi tugas. saya, Baya dan Aliyyaa bertugas mencari batang-batang pohon serta dedaunan sedangkan Ajie dan Basril dengan dibantu kak Anang membuat pondasi bivak. setelah bivak jadi, benar saja.. bivakku adalah surgaku. ada rasa nyaman tersendiri ketika istirahat didalam bivak walau harus berdempet-dempetan dengan saudara satu kelompok. sebelum tidur, kami mengganti pakaian lapangan dengan baju bersih serta mengeluarkan perlengkapan tidur. ketika hendak berbaring, saya teringat kalau belum mengeluarkan kaos kaki. tanpa sepatah katapun, saudara Basril memberikan kaos kaki yang hendak ia pakai kepada saya. terimakasih saudara, semoga tidurmu tetap nyenyak bersama lindunganNya :)

9 November 2014

seperti biasa, sebelum memulai aktivitas kembali kami berolahraga pagi dilanjutkan sarapan masih dengan bahan makanan SURVIVAL kemarin. setelah makan, kami diinstruksikan untuk membongkar bivak dan packing untuk persiapan turun. diperjalanan turun ini, saya mendapat beberapa insiden. saya tergelincir ditanah yang becek hingga setengah badan saya terperosok ke bibir jurang yang untungnya, masih ada ranting-ranting pohon untuk berpegangan disekitarnya. darisitu, saya mulai sulit untuk fokus. sepanjang perjalanan, kaki saya gemetar hebat. rasanya ingin sekali menangis, tapi saya harus tetap kuat. hingga pada tanjakan terakhir sebelum batas hutan, dada saya terasa sesak luar biasa. sesampainya diatas, saya menangis seperti refleks melepas sesak yang ada didada. instruktur yang sudah menginstruksikan kami para siswa untuk melanjutkan perjalanan, membuat saya menyadari kalau carrier saya sudah dibawa oleh salah satu saudara atas perintah instruktur. ketika mengetahui hal tersebut, saya langsung lari menyusul saudara didepan untuk mengambil carrier saya kembali. ketika sadar akan apa yang baru saja saya lakukan, saya merasa sangat cengeng, lemah, bahkan egois. dari insiden ini saya akan berusaha untuk tidak menyusahkan saudara 34 lagi.

"I can say that I'm pretty much sad and broke but giving up is really not my thing."

Try Out I Hutan Gunung ini memberikan pengalaman yang sangat luar biasa. bersama 22 orang saudara 34, saya belajar tentang arti sebuah kebersamaan dan persaudaraan. pentingnya untuk selalu berpikir positif dan tetap fokus dalam situasi apapun adalah pelajaran berharga dari perjalanan ini. saat berada dimedan latihan juga saya semakin sadar akan pentingnya latihan fisik. alam yang tidak memiliki kepastian dan alam yang tidak membeda-bedakan antara pria dan wanita menuntut kita untuk selalu siaga dalam situasi apapun. yang paling penting, saya belajar tentang hidup. seberat apapun cobaan, JANGAN PERNAH MENGELUH dan TABAH SAMPAI AKHIR.



"Nilai kepetualangan yang kita dapatkan hanya kita yang merasakan kepuasannya, dalam diri kita sendiri. Bukan orang lain."